Misteri Kegelapan Menyelimuti Getsemani

Bacaan: Matius 26:36-46

Nas: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: Roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Matius 26:41).

Andaikata kita ikut masuk ke Taman Getsemani, di belakang para rasul, ada 2 kemungkinan yang terjadi menimpa tubuh kita. Pertama, kita merasakan gelap gulita menakutkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Tubuh menjadi beku. Kemungkinan kedua, kita jatuh tertidur pulas. Lalu terkejut bangun karena mendengar suara keras: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku?”

Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” Sebuah rintihan penuh misteri memilukan yang mengiris-iris hati siapa saja yang mendengar. Dan suara itu berlanjut: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari padaKu.…” Sampai di sini suara ratapan itu mencari alternatif kemungkinan untuk menghindar dari kegelapan murka yang mengerikan: cawan minuman.

Siapa sebetulnya yang mengharuskan Dia minum dari cawan minuman yang—tentu saja—rasanya campur aduk? Pahit getir, asam, anyir, pengar dan segala rasa yang tidak enak. Bukan orang Yahudi atau Farisi, bukan Imam Besar dan para ahli Taurat, bukan Mahkamah Agama dengan Kayafas sebagai ketuanya atau gubernur Pontius Pilatus, tetapi Allah Bapa yang di sorga.

Tindakan menghindar dari keharusan minum cawan minuman ini adalah manifestasi dari penolakan yang disebabkan oleh ketakutan dan rasa sakit yang tak tertahankan. Cawan minuman ini merupakan kemurkaan yang amat berat dari Sang Bapa. Isinya keharusan masuk ke dalam api neraka yang sangat panas hingga ribuan derajat celcius. Siapa yang dapat bertahan hidup dalam api yang menyala-nyala itu? Tidak seorang pun. Apakah Sang Bapa begitu kejam sehingga memberi hukuman yang dahsyat? Juga tidak, sebab tindakan Sang Bapa itu berdasarkan kasih-Nya yang besar. Kadar kasih-Nya melebihi derajat panasnya api neraka.

 “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Jikalau dalam langkah pertama terdengar suara penolakan, dalam langkah kedua terdengar suara penerimaan, pasrah menyerah. Dengan demikian “rasa hati yang sangat sedih” itu sudah hilang meski belum tuntas. Ada sisa yang tidak kalah misteriusnya. Sebab nanti dari kayu salib di Golgota masih terdengar suara mendampar tanya: “Eloi, Eloi, lama sabachtani?”

Dari langkah pertama dan kedua tampak bahwa Tuhan Yesus mengalami keterbelahan pribadi menjadi dua sisi yang bertolak belakang. Sisi negatif seperti penolakan, mbalela, dan sisi positif yaitu ketaatan, kepasrahan dan kerelaan menanggung beban. Tentu yang mengalami keterbelahan ini adalah sifat kemanusiaan-Nya, bukan sifat keallahan-Nya.

Bagi kita pada umumnya, akan mengalami dan merasakan dua sifat berbeda itu dalam dirinya menjadi sebuah pergumulan, yang satu ingin mengalahkan yang lain. Misalnya, langkah kepasrahan dan kerelaan dibarengi dengan sungut-sungut dan keluhan. Pergumulan semacam ini juga dialami rasul Paulus. “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku… tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Rom. 7:18,19).

Melihat realitas kehidupan sehari-hari, terkadang kita menjadi bingung, seperti kebingungan penulis Mazmur 73, yang melihat orang saleh menderita, orang fasik justru beruntung. Seolah-olah Tuhan membiarkan kejahatan berkecamuk, mengizinkan setan menggoda dan menghancurkan kita (Ayb. 1:6-12; 2:1-8). Tuhan membiarkan iblis menggocoh tubuh Paulus (2Kor. 12:7-9) dengan duri dalam daging. Meski Paulus sudah berdoa tiga kali mohon agar Tuhan berkenan menyembuhkan, namun Tuhan menolak permohonan Paulus agar duri dalam daging itu dicabut. Tuhan juga membiarkan rasul Yudas Iskariot berkhianat, walau sudah diketahui sebelumnya.

Mengingat semua pembiaran ini, saya berpendapat Tuhan membiarkan sejarah berjalan menurut arahnya yang menyimpang, namun kemudian Tuhan menangkap jalur yang menyimpang itu dan meluruskannya kembali. “Dia yang melukai (membiarkan terjadi ada luka), tetapi juga yang membebat…” (Ayb. 5:18).

Tuhan Yesus memang telah menerima cawan minuman dan meminumnya dengan tuntas. Artinya, Dia sudah memasuki api neraka yang menyala-nyala, namun aneh, nyala api tidak panas. Siapa saja yang mengikut Tuhan Yesus dengan setia, mesti ikut memasuki nyala api neraka, tetapi tidak terbakar, seperti Sadrach, Mesakh, Abednego. (Dan. 3:19-30).

 (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *