Drama Malam Di Halaman Kayafas

Bacaan: Matius 26:69-75

Nas: Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu. Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: Aku tidak kenal orang itu.  (Matius 26:71,72).

Pada malam menjelang penyaliban di halaman istana Imam Besar Kayafas, drama penyangkalan berlangsung singkat hanya beberapa menit, namun dampaknya sungguh dramatis. Seorang yang sok jagoan sesumbar: “Aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau”, meleleh di depan hamba perempuan, melalui kata-katanya “aku tidak kenal orang itu”. Tidak cuma sekali, tapi diulang hingga 3 kali.

Ada tiga sekawan rasul pilihan yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes di antara dua belas rasul. Petrus merupakan rasul yang paling banyak tingkahnya. Tampak bahwa jiwanya dangkal. Cepat bertindak hanya berdasarkan pengamatan sekilas, tanpa dipikir terlebih dahulu. Karakter demikian menjadi ciri khas kepribadiannya. Berbeda dengan Yohanes. Ia suka berpikir mendalam. Segala sesuatu ditimbang nalar lebih dulu sebelum bertindak. Yakobus lain lagi. Ia datar saja, tidak banyak aksi yang tercatat. Namun ketiga-tiganya menjadi martir, meninggal dalam kesaksiannya sebagai murid Yesus.

Petrus jatuh terlalu dalam karena dosa penyangkalan yang tampaknya berasal dari rasa takut yang menggelapkan hatinya. Takut melihat Gurunya ditangkap dan dianiaya, diludahi mukanya dan disiksa. Ketakutannya membuat lidahnya tergelincir: “Aku tidak kenal orang itu”. Penyangkalannya sampai tiga kali di tempat tersembunyi di depan beberapa gelintir orang membuat hati Tuhan Yesus sedih. Sesungguhnya Tuhan sudah mengetahui sebelum Petrus menyangkal, malah sudah dinubuatkan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat. 26:34). Terhadap firman ini, Petrus menjawab: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mat. 26:35).

Setelah tiga kali penyangkalan itu, terdengarlah ayam jago berkokok. Terkejutlah Petrus karena ia teringat firman Tuhan Yesus beberapa jam yang lalu ketika mereka terlibat dalam percakapan di tengah perjamuan kudus. Sekilas matanya memandang ke dalam gedung istana Kayafas tempat pengadilan Tuhan Yesus berlangsung. Hanya sedetik saja Tuhan Yesus menoleh, dan melihat Petrus di halaman yang gelap. Mata Tuhan beradu pandang dengan mata Petrus. Sebetulnya hati Tuhan tidak sedih atas penyangkalan Petrus. Justru Ia menyayangi Petrus dan mengingatkan kembali ikrar Petrus: Aku bersedia mati bersama Engkau. Segera Petrus keluar dari halaman dan menangis sedih, tanda penyesalan yang mendalam.

Petrus seorang rasul yang memiliki banyak inisiatif, yang benar dan yang salah. Suatu ketika Tuhan Yesus bertanya kepada para rasul-rasul-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Para rasul menjawab: “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia.” Lalu Tuhan bertanya secara pribadi: “Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab tegas: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Namun, beberapa hari kemudian, ketika Tuhan menyatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung penderitaan dari pihak imam-imam dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, Petrus menarik Tuhan Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu….” Tuhan memarahi Petrus: “Enyahlah Iblis.” (Mat. 16:13-23).

Beberapa waktu kemudian sesudah peristiwa Paskah, Petrus mati sebagai martir. Dia ditangkap di kota Roma oleh pihak penguasa setempat lalu disalib dengan kepalanya berada di bawah. Demikian menurut tradisi lisan turun temurun. Yohanes dibuang ke pulau Patmos sebagai tahanan. Ia sempat menulis kitab Wahyu, kemudian meninggal di sana dan para muridnya tidak mengetahui di mana jenazahnya. Yakobus jelas dipenggal kepalanya oleh raja Herodes.

Demikianlah kisah dramatis para rasul. Begitu pula beberapa warga jemaat mula-mula banyak menjadi martir, diantaranya adalah Stefanus. Seterusnya sepanjang sejarah gereja, dunia ini penuh dengan orang yang membenci dan memusuhi warga jemaat di mana-mana. Di negeri kita juga pernah terjadi (th. 1968) kejadian gedung gereja dihancurkan dan dibakar masyarakat, di Jawa Timur dan Jawa Barat. Juga tempat-tempat lain yang tidak tercatat. Tetapi Tuhan Yesus tidak membiarkan gereja-Nya hancur. Ada berkat besar di balik penganiayaan. Setiap tetes darah para martir, akan menjadi benih gereja yang kemudian tumbuh, dan gereja baru akan muncul di mana-mana.

 (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *