MENERIMA APA ADANYA

Bacaan : Pengkhotbah 3 : 1-15

Nas : “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya”  (Pengkh.3 : 1)

Ketika saya masih kecil di sekolah TK diajari menyanyi oleh ibu guru : “Lihat kebunku/penuh dengan bunga/ada yang putih/dan ada yang merah/setiap hari kusiram semua/mawar melati/semuanya indah”. Syair lagu singkat ini menjadi kegemaran anak-anak dan mengandung hikmat yang manis. Syair ini mendorong anak-anak untuk suka berkebun menanam bunga dan buah, rajin merawatnya dan mencintai keindahan.

Bunga mekar dan menjadi layu. Ia memiliki waktu untuk mekar dan ada waktunya untuk layu. Meski disiram tiap hari, jikalau sudah datang waktunya gugur, maka bunga akan gugur. Kita tidak perlu memuji bunga yang mekar indah, dan tidak perlu mengutuk yang layu. Kita mesti menerima apa adanya, apa pun yang terjadi tanpa rasa gembira, sakit, sesal atau memberontak, sebab segala sesuatu berjalan mengikuti waktu yang terus bergerak tak pernah berhenti, kecuali  sekali selama ribuan tahun pada zaman Yosua (Yosua 10:12-14), dan tak akan pernah terjadi lagi selamanya.

Karena waktu terus bergerak, maka sebetulnya di seluruh dunia ini tidak ada jam yang tepat persis sama seperti yang kita sebutkan. Saat kita berkata : “Sekarang pukul tujuh pagi tepat”, dan selesai berkata demikian, jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh lebih dua atau tiga detik.

Kembang mekar di sana-sini menyenangkan. Ketika kita sedang mengagumi keindahannya, mendadak angin panas meniupnya dan berguguranlah bunga indahnya. Kemudian terdengarlah lagu Gugur Bunga berkumandang pada saat pemakaman Kapten Laut (P) Haryanto (32 thn) bersama tujuh rekannya gugur dalam kecelakaan pesawat helikopter saat menabrak gunung di kawasan Temanggung (harian KR, 3 Juli 2017). Kapten Haryanto mewakili semua yang bagaikan bunga sedang mekar mendadak diterpa angin panas, mengakibatkan kering, layu dan gugur. Lagu Nina Bobok dan Gugur Bunga selalu bergandengan tak terpisahkan.

Kita semua berada dalam kereta waktu yang bergerak dan tidak pernah berhenti di tengah jalan hingga sampai pada tujuan. Sedang asyik menikmati pemandangan sepanjang perjalanan mendadak dikejutkan oleh kenyataan bahwa tempat yang kita tuju sudah sangat dekat. Kita tidak bisa mengeluh, menyesal atau protes : “Mengapa begitu cepat jalannya kereta ini sehingga saya kehilangan momen-momen indah”. Jalannya kereta memang di luar kekuasaan kita. Kereta berjalan atau berhenti sudah dijadwal dan program perjalanan tak bisa diubah.

Kita adalah musafir yang berjalan menuju kota Raja yang kudus. Dalam perjalanan selalu ada godaan. Menurut bapak reformasi gereja Martin Luther godaan itu bertahap bagi setiap orang percaya. Setiap usia memiliki godaan dan cobaan tersendiri. Orang-orang muda digoda oleh gadis-gadis. Pria berumur tiga puluh digoda oleh emas dan kekayaan. Usia 40-an digoda kemuliaan dan kehormatan. Mencapai umur 60 tahun ke atas, digoda oleh kesombongan dengan berkata pada dirinya sendiri : “Coba lihat, betapa saleh aku ini. Betapa banyak jasa dan pengorbananku”. Celakanya, godaan itu tidak berhenti saat usia beranjak dari remaja ke dewasa dan lansia, makin bervariasi dan menyebalkan.

Pengkhotbah berkata : “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah atau dikurangi; Allah berbuat demikian supaya manusia takut akan Dia” (ayt 14). Menjadi muda, dewasa dan lansia, semua itu ditentukan oleh Sang Pemilik Waktu. Ini disebut predestinasi atau takdir, tak dapat diubah kecuali oleh Allah sendiri. KehendakNya ialah supaya manusia takut akan Dia yang mengatur lama atau sebentar hidup manusia.

(S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *