HIDUP SEGAR BAGAIKAN KALPATARU

Bacaan :  Mazmur 1 : 1 – 6

Nas : “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu  katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal” ( Matius 12:33).

“Ia seperti pohon” kata penulis kitab Mazmur bab 1 menggambarkan hidup orang saleh. Pohon apa namanya kita tidak tahu. Kita beri saja namanya: Pohon Kalpataru. Nama ini mengandung makna kelimpahan, hidup subur penuh harapan, berumur ratusan tahun dan buahnya lebat. Atau bisa saja kita beri nama pohon zaitun, pohon kelapa dsb, karena penulis Mazmur tidak menyebut namanya. Mungkin nama dianggap tidak penting; kualitasnya yang lebih diutamakan. Dikatakan: “Menghasilkan buahnya pada musimnya, tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil”. Mengapa bisa segar seperti itu? karena ditanam di tepi sungai yang airnya terus mengalir tak pernah kering.

“Dari buahnya pohon itu dikenal,” demikian firman Tuhan Yesus. Baik atau buruk indikasinya ada pada buahnya. Biar subur lebat daun, mengaku dirinya bibit unggul, jika buahnya masam atau pahit rasanya pohon itu tidak disenangi, menjadi persona non grata. Atau biar tumbuh subur tetapi tak berbuah seperti pohon ara yang dikutuk Tuhan Yesus akhirnya mati layu kering (Matius 21: 19).

Untuk menjadi persona grata memang memerlukan langkah hidup yang tidak gampang, sebab kecenderungan untuk berjalan, berdiri dan duduk di antara dan bersama orang fasik (duraka) lebih menggiurkan. Pergaulan yang menjanjikan kenikmatan duniawi lebih disukai ketimbang “merenungkan Taurat siang dan malam”. Oleh sebab itu kita harus hati-hati, hendaknya tidak menanam bibit pohon meski dari plasma unggul di tepi aliran air yang keruh kotor, bisa rusak hidupnya kelak jika bibit itu tumbuh.

“Aliran air” sebagai metafor pergaulan dan lingkungan, pendidikan dan pembinaan, diakui kebenarannya oleh khalayak bisa mempengaruhi terbentuknya kepribadian seseorang. Film cerita Tarzan menunjukkan seorang bayi yang dibesarkan dan diasuh oleh kera tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan kuat, fisik dan figurnya sama dengan ras manusia pada umumnya, tetapi mental, tingkah laku dan bicaranya persis seperti monyet.

Pencapaian materi dan teknologi dewasa ini sangat luar biasa, bukan hanya di luar negeri tapi juga di dalam negeri. Namun secara budaya dan spiritual kita kelaparan dan terbelenggu. Tanda-tanda tingkah dan perilaku hidup seperti kera tampak di mana-mana. Mengambil dan melahap yang bukan haknya, bukan miliknya, menjadi trend hidup orang banyak, terutama para pemimpin bangsa dan elite politik yang seharusnya menjadi teladan dan panutan. Kita lalu ingat nasihat rasul Paulus, memang kita berada dan hidup di dunia, tetapi kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini dalam berpikir dan berperilaku.

 

“Janganlah kamu sesat : Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15 : 33)

 

(S. Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *