TANGISILAH DIRIMU SENDIRI

Bacaan  : Lukas 23 : 26-32

Nas : “Yesus berpaling kepada mereka dan berkata : “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah  kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu” . (Luk 23:28).

            Dalam puncak penderitaan, setapak demi setapak naik ke bukit Golgota tempat yang akan digunakan untuk menggantung diriNya, Ia merasa emosinya tersentuh oleh ratapan puteri-puteri Yerusalem yang mengikuti perjalanan salib ini. Ia tidak mengucapkan terimakasih atas empati puteri-puteri Yerusalem itu, tetapi mengingatkan akan datangnya saat yang mengerikan, ketakutan, sehingga orang-orang akan mencari mati bagi dirinya sendiri : “Hai gunung-gunung, runtuhlah atas kami, hai bukit-bukit, timbunilah kami……”.

            Pada hari minggu Palmarum, sebelum hari penyaliban, justru Tuhan Yesus menangis ketika menunggangi keledai betina, saat memasuki Yerusalem secara resmi sebagai Mesias, Raja Damai. Ia melihat datangnya saat kehancuran kota Yerusalem (pada tahun 70 dihancurkan oleh Titus, jenderal Romawi).

            Orang menangis biasanya disebabkan oleh rasa sedih, terharu, iba, sakit atau sukacita gembira. Seorang aktris bisa action sebentar, merenung lalu mengeluarkan air mata demi memenuhi tuntutan sang sutradara. Emosi yang teraduk-aduk oleh keadaan menyebabkan orang menangis. Pada umumnya kaum wanitalah yang mudah menangis, bersuara atau tidak bersuara.

            Puteri-puteri Yerusalem menangis ketika mengikuti arak-arakan mengiring Tuhan Yesus menuju tiang gantungan di bukit Golgota dan melihat penderitaanNya. Perasaan mereka menjadi sedih, iba dan terharu. Tentu di antara mereka ada perempuan yang menjadi murid Tuhan Yesus. Yang jelas ada ibunda Tuhan Yesus yaitu Maria, lalu Maria istri Kleopas dan Maria Magdalena yang mengiring hingga ke bukit Golgota. Mereka bahkan menunggui waktu Tuhan Yesus dipaku di kayu salib lalu ditegakkan, ditanam bersama dua penyamun yang juga tersalib. Pada ujung atas kayu salib Tuhan Yesus tertulis huruf INRI, artinya Raja Orang Yahudi (Iesus Nazarenus Rex Iudaerum).

            Di atas kayu salib Tuhan Yesus masih mengingat ibundaNya dan seorang rasul yang disayangi, Yohanes. Kepada ibundaNya Ia berkata : “Ibu, inilah anakmu”, maksudnya menunjuk pada Yohanes. Kepada Yohanes Ia berkata : “Inilah ibumu”. Betapa berat penderitaan jiwa ragaNya. Meskipun begitu, Ia tetap mengingat akan penderitaan penduduk Yerusalem. Tetapi apa mau dikata, orang-orang Yahudi memang keras kepala dan pantas menerima hukuman berat. Mulai saat itu orang-orang Yahudi kehilangan haknya sebagai bangsa pilihan keturunan Abraham. Hak istimewa itu beralih kepada umat Allah Perjanjian Baru, yang terwujud dalam Sanctam Ecclesiam, Gereja Kristen yang Kudus dan Am.

            Gereja kita sekarang inilah yang mengemban misi melakukan kewajiban utamanya, yaitu memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia. Di samping itu terdapat dua tugas lainnya yaitu persekutuan (Koinonia) dan pelayanan (Diakonia) serta dilengkapi dengan kesaksian (Marturia). Pelaksanaannya mesti seimbang dan terus menerus sampai dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Tugas gereja adalah tugas kita bersama, dan jika kita pikul bersama tugas itu terasa ringan.

                                                                                                                                    (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *