MENGHITUNG HARI-HARI

Bacaan :  Mazmur 90 : 1-17

Nas : “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Ajarlah kami  menghitung hari-hari sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mz 90 : 10,12).

                 Manusia  memiliki umur, tetapi bukan hak miliknya sendiri, hanya pemberian atau titipan, sehingga tidak kuasa mengatur panjang atau pendek umurnya. Tuhanlah pemiliknya dan memberikan kepada manusia ciptaanNya. Namun, Tuhan juga menghendaki supaya manusia bisa punya umur panjang. Masalahnya, manusia harus mau kerjasama dengan Tuhan agar Dia berkenan memberi panjang umur, antara lain dengan hidup teratur, tidak konsumsi minuman keras dan tidak merokok, tidak berlebihan dalam perbuatan dan pekerjaan, mengatur pola makan dan berolah raga.

            Kita semua mendambakan umur panjang. Bukanlah kita selalu berdoa bagi mereka yang sedang berulang tahun, semoga diberi umur panjang dan bagas kasarasan? Manusia menginginkan umur panjang seperti nenek moyang kita dahulu (Kejadian 5). Metusalah 969 tahun, Yared 962 tahun, Set 912 tahun, Enos 905 tahun, Mahalael 895 tahun. Pada zaman nabi Musa umur manusia menjadi pendek, seperti katanya : “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat 80 tahun…”.

            Para warga jemaat yang tergabung dalam Komisi Adiyuswa adalah mereka yang paling berkaitan dengan soal umur, sehingga mengidolakan ayat-ayat Alkitab menjadi semboyan mereka (Amsal 3 : 13-18). Dambaan orang beriman seperti kita ini memang demikian. Namun realitas sehari-hari bersuara lain : “Kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan”. Karena itu pikiran nabi Musa melayang kepada doa permohonan : “Ajarilah kami menghitung hari-hari…..”.

            Marilah kita belajar menghitung mulai dari angka satu, dua, tiga dan seterusnya. Saya menghitung dari bilangan satu sampai dengan sembilan puluh. Bukan dalam bilangan hari tetapi tahun, dan tinggal dua hari lagi, berujung pada angka sembilan puluh. Itulah  masa hidup penulis renungan minggu ini. Suatu tonggak sejarah hidup. Menghitung hari-hari masa hidup tidak bisa diartikan secara harfiah. Masa hidup 90 tahun lalu diartikan 365 hari x 90, yaitu 30852 hari. Bukan seperti itu, akan tetapi mesti diartikan secara metafora atau perumpamaan. Maksudnya tiap hari yang telah kita lalui ini berisi sesuatu yang baik atau yang buruk, yang terang atau yang gelap, penuh tawa atau tangis. Kita tidak menghitung hari yang akan datang, tetapi yang sudah kita lewati, hari yang lalu. Seluruh kejadian yang kita alami di hari yang lalu menjadi guru yang baik, yang mendidik dan mengarahkan kita memasuki hari esok atau masa depan.

            Masa depan adalah daerah yang disebut orang sebagai tera incognita yaitu lorong gelap. Sering disebut juga hutan perawan, daerah yang belum terjamah manusia. Oleh karena itu perlu sekali kita mengadakan persiapan diri, seperti halnya orang yang hendak bepergian. Sedia payung sebelum hujan, kata pepatah. Sedia obat sebelum tubuh memar. Walaupun nasib berada di luar daya tangkap penginderaan kita, namun mengantisipasinya bukanlah langkah sia-sia. Mungkin juga kita bisa mengalami kebentus ing tawang, kesandung ing rata, namun, jika sudah bersiap diri tidak akan terkejut dan tidak menjadi kecewa. Sebab segala kemungkinan selalu ada di depan kita. Yang selalu tidak ada di depan kita adalah kepastian, sebab itu milik Sang Waktu, dan bukan milik kita.

                                                                                                                                         (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *