NOLI ME TANGERE

Bacaan :  Yohanes 20 : 11-18

Nas : Kata Yesus kepadanya : Maria !. Maria berpaling dan berkata kepadaNya : Rabuni !, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya :  Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku  belum pergi kepada Bapa…. (Yoh. 20 : 16,17 a).

Setelah kebangkitanNya dari kubur, tubuh Tuhan Yesus bersifat wadag atau jasmani sekaligus rohani atau spiritual. Artinya bisa diraba oleh siapa saja dan bisa makan dan minum seperti kita. Di samping itu tubuh Tuhan Yesus juga bersifat spiritual rohani, tak bisa diraba atau ditangkap dengan tangan. Tampak wujudnya, tetapi bisa hilang dalam sekejab seperti hantu. Kepada rasul Tomas Ia berkata : “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20: 27). Tetapi kepada Maria Magdalena, Tuhan Yesus tidak mau disentuh. Katanya :”Noli me tangere, janganlah engkau memegang Aku……”. Tuhan Yesus mengetahui isi hati Maria. Ia ingin memegang tubuh Tuhan Yesus didorong oleh keinginan libidinal, selaku gadis yang mendambakan sang kekasih. Terhadap murid perempuan lainnya, Tuhan Yesus membiarkan mereka meraba menyentuh kakiNya ketika berjumpa di jalan setelah mereka menengok kubur yang kosong. Mereka bersujud di depanNya sambil memegang kakiNya.

Frase noli me tangere tertulis pada lukisan besar dari abad 15 pada kapel St Antoine, pada bagian sebelah kiri gereja di Perancis. Lukisan itu menggambarkan Maria Magdalena sedang berlutut di depan Tuhan Yesus yang membungkuk dan mengulurkan tanganNya, memberkati dan melarang Maria menyentuhNya. Hal itu dapat dibaca pada buku Secret of Mary Magdalene halaman 281.

Perlakuan Tuhan Yesus yang berbeda-beda pada murid-muridNya mengajari kita bahwa tindakanNya disesuaikan dengan situasi dan kondisi para murid. Kepada Tomas, Ia tidak menyesali ketidakpercayaan Tomas, tetapi mengasihinya sehingga berkenan menuruti keinginan Tomas. Kepada dua orang yang berjalan ke dusun Emaus, dengan sabar Tuhan Yesus mengajar mereka sehingga mereka terangkat dari kebodohannya. Kepada Maria Magdalena Ia berkenan menampakkan diri secara khusus sehingga Maria tertolong dari kecenderungan persepsi yang menyesatkan terhadap Gurunya. Saya kira sekarang pun demikian. Saat kita berada dalam kesulitan, tak terduga Tuhan Yesus mengutus malaikatNya untuk menolong kita dari keterpurukan. Ketika kita sedang berkabung berduka cita, Tuhan Yesus datang menolong dalam wujud seseorang yang mendekati kita, merangkul dan menghibur kita, tidak hanya dengan kata-kata kosong, tetapi dengan empati dari nuraninya yang menyejukkan hati.

Kita selayaknya menguatkan iman bahwa Tuhan Yesus tidak pernah berubah kasih sayangNya pada kita, yang mengaku diri sebagai muridNya. KuasaNya membuat mujizat juga tidak berubah. Jika kita cermat menghitung berkatNya yang didapat setiap hari, maka kita dapat berkata itulah mujizat. Itulah keajaiban  -seperti zaman nabi Elia- yang dialami oleh seorang janda di Sarfat. Pada saat timbul kelaparan melanda negeri, ia ditolong oleh nabi Elia (1 Raja 17:7-16) sehingga ia terlepas dari maut karena memperoleh makanan cukup.

 

                                                                                                                           (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *