SUGIH TANPA BANDHA

Bacaan : Markus 16 : 9-20

Nas :  Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya : mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa- bahasa yang baru  bagi mereka (Mrk 16 : 17)

Judul renungan ini adalah penggalan syair atau semboyan R.P. Sosrokartono, kakak laki-laki R.A Kartini. Lengkapnya sebagai berikut : 1. Sugih tanpa bandha. 2. Ngluruk tanpa bala. 3. Menang tanpa ngasorake. Terjemahannya adalah kaya tanpa harta benda duniawi, menyerbu tanpa membawa pasukan, menang tapi tidak dengan mengalahkan.

Kata sugih atau kaya dalam tema ini mengandung maksud bukan secara harfiah, tetapi secara metafora, sehingga bisa dirangkaikan dengan frase lain seperti kaya akal budi, kaya sahabat mitra kadang, kaya imajinasi atau khayalan, kaya rekayasa, kaya inisiatif, kaya rencana dan strategi, kaya pola budaya, kaya sorga dan lain-lain.

Terkait dengan firman renungan ini, sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Tuhan meninggalkan suatu warisan bagi para muridNya berupa kekayaan spiritual. Isinya berupa kuasa mengadakan mujizat : mengusir setan, berbicara dengan bahasa baru, sekalipun minum minuman beracun tidak celaka, meletakkan tangan di atas tubuh orang sakit, lalu orang itu sembuh. Tanda-tanda kuasa itu hanya bisa diterima dari Tuhan Yesus. Kuasa itu bersifat adikodrati, melampaui kodrat manusia. Kalau kita berjalan di atas air atau sungai, pasti akan tenggelam, itulah kodrat manusia. Akan tetapi Petrus bisa berjalan di atas air laut seperti berjalan di atas jalan biasa.

Tanda-tanda yang menyertai orang-orang percaya pada zaman purba yang diberikan Tuhan Yesus merupakan kekayaan spiritual yang sangat berharga, nilainya melebihi kekayaan harta benda duniawi. Bagaimana dengan kita sekarang, apakah masih bisa menikmati kekayaan spiritual itu? atau dengan perkataan lain, apakah mujizat itu masih ada?. Secara tegas saya nyatakan masih ada dan banyak. Tuhan Yesus tidak berubah kasih dan kuasaNya, tetap seperti dahulu. Memang secara harfiah kita tidak pernah mendapatinya di tengah gereja dan masyarakat. Namun, secara imaniah kita dapat melihat jelas mujizat di tengah masyarakat. Jika kita melihat seorang ibu muda yang menyusui bayinya yang baru dilahirkan dari rahimnya, sebetulnya kita melihat mujizat besar. Allah sedang menciptakan manusia baru. Payudara yang semula kecil menjadi besar karena mengeluarkan air susu. Tuhan menghidupi si bayi yang baru lahir di bumi melalui air susu ibunya. Proses ini barangkali bisa dijelaskan secara ilmiah oleh seorang ahli kesehatan. Atau diuraikan dengan dasar ilmu anatomi tubuh tanpa menghiraukan campur tangan Tuhan. Faktanya, memang ada seorang anak pelacur lahir sehat bugar, sedangkan istri pendeta memiliki anak cacat tubuh.

Barangkali kita mempunyai pengalaman tersendiri. Kita pernah mendoakan orang sakit, ternyata orang tersebut menjadi sembuh. Mungkin setelah didoakan, dan mendengar doa kita, iman si sakit menjadi lebih kuat dan itu mempengaruhi kondisi tubuhnya, berakibat tubuh menjadi kuat, akhirnya sembuh dari penyakitnya. Bukankah ada pepatah Mens sana in corpore sano?

Tubuh dan jiwa yang sehat adalah kekayaan yang tak ternilai, melebihi segalanya. Di saat kita sakit, kekayaan duniawi tak dapat dinikmati. Makanan dari restoran pun, rasanya hambar dan pahit. Sebaliknya kala badan sehat, apalagi sedang lapar, makan dengan sayur gudhangan dan lauk tempe goreng, terasa nikmat sekali. Saat itulah kita merasa : sugih tanpa bandha, merasa kaya meskipun miskin harta, miskin yang bahagia.

 

                                                                                                                                    (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *