UT OMNES UNUM SINT

Bacaan :  Yohanes  17 : 1-26

Nas :  Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku  (Yoh 17 : 21).

 

Pancasila adalah the way of life-nya bangsa Indonesia, bersama dengan UUD 45 menjadi dasar NKRI. NKRI adalah harga mati, tidak bisa diubah atau diutak-atik. Kalau ada golongan, kelompok atau parpol yang ingin mengubah, seluruh bangsa Indonesia akan menentangnya. Bangsa kita, Indonesia ini adalah bangsa yang plural, majemuk yang terdiri dari beribu pulau, etnis atau suku bangsa, berbagai macam bahasa daerah, budaya dan adat istiadat yang beraneka ragam, kepercayaan atau agama yang berbeda-beda pula, bisa terhimpun oleh Pancasila sehingga yang Bhinneka itu menjadi Tunggal Ika. Bisa duduk bersama berangkulan dalam persahabatan yang erat.

Mengacu pada Pancasila yang punya daya perekat yang kuat, muncul pertanyaan, apakah gereja juga memiliki way of life- nya sendiri? jawabannya tegas : iya, gereja punya, yaitu Alkitab PL dan PB. Jika menyebut Alkitab barangkali terlalu makro. Apakah ada yang mikro? Ada, yaitu Credo in Deo Patre Omnipotente, atau Pengakuan Imam Rasuli. Cara hidupnya sudah jelas dan visinya adalah iman, pengharapan dan kasih. Sedangkan misinya adalah koinonia, diakonia dan marturia (persekutuan, pelayanan dan kesaksian atau pekabaran Injil). Dalam realitasnya kita melihat begitu banyak gereja yang berlandaskan budaya, bahasa dan suku bangsa setempat seeprti GKJ, Gereja Pasundan, Gereja Batak atau HKBP, Gereja Minahasa, Gereja Timor, Gereja Pentakosta, Gereja Advent dan lain-lain. Para pemuka gereja menyadari bahwa adanya berbagai macam gereja ini sebetulnya tidak diharapkan. Lalu diusahakan adanya wadah untuk mempersatukan, untuk bekerja sama dan tolong-menolong. Wadah tersebut diberi nama PGI atau Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. PGI ingin melaksanakan amanat dalam doa Tuhan Yesus yaitu Ut Omnes Unum Sint. PGI memiliki anggota gereja sebanyak 80 lebih, terdiri dari gereja arus utama dan gereja arus samping. Yang berada di arus utama cenderung mudah untuk diajak bekerja sama, hidup berdampingan. Tetapi yang berada pada arus samping, arahnya memang menyamping sehingga sulit untuk bergandengan tangan. Dalam dunia politik, pihak-pihak yang bermusuhan bisa mengadakan rekonsiliasi atau berdamai manakala didapatkan titik temu dalam rangka kerjasama. Dalam ranah keyakinan atau agama, cenderung sedikit dijumpai langkah-langkah rekonsiliasi. Ut omnes unum sint hanya menjadi angin lalu yang tidak membekas. Ini merupakan dosa kolektif gereja-gereja Perjanjian Baru pada zaman sekarang, maupun pada abad yang lalu. Kini, perlu ada ritual pengakuan dosa secara terbuka, bukan hanya dalam bilik pengakuan saja yang berisi dua orang, yaitu si pengaku dan si penerima pengakuan (rohaniwan).

Barangkali ada di antara warga GKJ Karangbendo yang belum pernah mengikuti kebaktian di gereja lain, seperti GKI, GPIB, GPM dll. Untuk menambah wawasan dan mendukung gerakan Oikumene gereja, saya menyarankan ada baiknya berkunjung ke gereja lain dan mengikuti kebaktian di sana.

 

                                                                                                                                       (S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *