SENANTIASA BERSUKA CITA

Bacaan :  I Tesalonika 5 : 16 – 22

Nas :  Bersukacitalah senantiasa. Mengucap syukurlah dalam segala hal  ….. (I Tes 5: 16,18)

Bukan tanpa alasan rasul Paulus menyuruh kita senantiasa bersukacita dan mengucap syukur dalam segala hal. Sebabnya adalah ia telah menikmati hidup dirangkul oleh Roh Kudus sehingga apa yang dipikirkan dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah dalam Kristus Yesus. “Janganlah padamkan Roh”, katanya, karena Roh itu yang memberi kita iman, pengharapan, kasih, talenta dan mulut untuk makan supaya bisa hidup, untuk berkata-kata, berdoa dan bernyanyi dan ucapan atau ujaran yang baik bersifat mendidik dan membangun persekutuan. Roh Kudus itulah yang berbicara berkata-kata memanggil orang supaya bertobat. Talenta yang diberikan Roh Kudus kepada jemaat itu bersifat multi. Selain glosolalia atau bicara dengan bahasa Roh, juga berupa kuasa untuk membuat mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dari orang yang kesurupan, bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah mati, seperti Dorkas atau Tabita (Kis 9: 36-43)

Kita baru saja menyaksikan Jemaat GKJ Karangbendo yang bersukacita pada saat memperingati hari Pentakosta (20 Mei 2018). Selaku warga gereja kita wajib berterimakasih kepada Majelis Gereja yang telah menyelenggarakan kebaktian Peringatan Pentakosta dengan modus yang apik istimewa dengan proses inkulturisasi. Ruang altar di depan mimbar disulap dijadikan tempat pagelaran wayang kulit. Mimbar besar ditutup dengan kelir dengan jajaran wayang di sebelah kanan dan kiri, dengan gamelan beserta penabuhnya yang sudah tersedia. Wayang kulit yang biasanya menggelar lakon kisah dari Mahabharata atau Ramayana, diubah menggelar kisah Pentakosta dengan para rasul. Sang dalang yang piawai sekaligus pendeta, setelah membaca Alkitab di mimbar kecil sambil berdiri menghadap Jemaat lalu berbalik membelakangi jemaat dan duduk bersila menghadapi kelir dan memegang wayang gunungan. Khotbahnya berbentuk narasi tentang para rasul yang kepenuhan Roh Kudus, lalu mengucapkan kata-kata dengan bahasa Roh.

Di samping pagelaran wayang kulit, dipersembahkan pula pisungsung undhuh-undhuh, tidak hanya berupa uang tetapi yang menarik berupa 3 gunungan setinggi 1 meter lebih. Gunungan tersebut berupa sayur-sayuran yang disusun dalam ikatan mengerucut seperti tumpeng besar, dan ada yang berupa susunan buah-buahan segar, dan yang satu lagi berupa sachet bergelayutan macam-macam, ada kopi putih, jae wangi, dll. Juga ada yang mempersembahkan ayam jago dan babon. Sesudah kebaktian semua pisungsung undhuh-undhuh itu dilelang kepada jemaat, dan gunungan buah-buahan dipetik dipungut oleh anak-anak, dan juga orang dewasa yang ikut-ikutan mengambil buah-buahan dari gunungan.

Sukacita telah meliputi seluruh warga Jemaat, karena Roh Kudus telah berkenan menggerakkan hati kita semua warga Jemaat untuk mengucapkan syukur dan mempersembahkan sebagian dari milik kita yang bisa kita persembahkan. Semoga sukacita ini tidak hanya terjadi dan terbatas pada hari Minggu Pentakosta kemarin, tetapi bisa berlangsung dalam hidup kita sepanjang masa. Dan mengucap syukur itu tidak hanya pada saat berkelimpahan, sehat tanpa derita, tetapi dalam segala hal yang meliputi suka duka secara lahir maupun batin, fisik dan psikis. Memang tidak gampang jika sedang sedih dukacita lalu harus bersukaria. Tetapi ada frasa yang berbunyi “blessings in disguise” menyadarkan kita bahwa dalam keadaan kelam dan buram selalu ada berkat Tuhan, tersembunyi namun kemudian dapat ditemukan.

 

(S.Hs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *